(Kembalilah
seperti sediakala agar kami merasa tak sia-sia berdoa untuk keutuhan sebuah
rumah tangga)
Tak sadarkah kalian waktu sudah larut
malam? Dan saatnya mata untuk terpejam?
Tapi kalian masih saja membunyikan
sirine ambulance. Masih saja meneriakkan suara-suara lantang pembelaan.
Malam ini, kalian buat darah
meletup-letup di jantung kami, begitu kencangnya ingin berhenti, menunggu
penantian sebuah akhir pertengkaran ini. Getir merasakan betapa sakitnya
mencoba menutup telinga kami demi menghiraukan ocehan kalian. Betapa inginnya
kami menjadi tuna netra sementara agar kami buta dan tak dapat menyaksikan
perang dunia ketiga antara kalian berdua.
Tidakkah kalian lihat kedua anak kalian
menangis dalam hati? Akankah kalian meninggalkan memori pahit ini hingga kami
bawa ke alam mimpi?
Sambar sana..sambar sini. Kalian
membuat kami seperti terjerat bom atom di malam hari. Bahkan nyamuk tak berani
mendatangi kalian untuk mendengung sekalipun.
Ini bukan panggung aksi, ini juga bukan
debat fraksi-fraksi, tapi ini adalah suasana dimana setan dan iblis sedang
menguasai lubang-lubang egoisasi.
Kami bukan anak-anak yang tidak kenal
empati, tidak mengenal rasa peduli. Kami masih punya mata hati untuk setidaknya
mencari celah-celah memberikan sejentik sugesti. Kami tak bisa hanya diam dan
berdiri di balik pintu dan seraya berkata-kata dalam benak kami.
Ingin sekali melototkan mata kami
sembari menentengkan tangan di samping pinggang kami lalu menghadapkannya ke
kalian.
Namun, kami hanya butuh orangtua yang
saling sayang sehingga kami tak lagi membangkang.
Perlu kalian ketahui bahwa kami hanya
ingin menjadi buah hati yang senantiasa berbakti untuk kembali menghidupkan
nurani. Kalaupun kami belum bisa menjadi lilin di tengah kegelapan, setidaknya
kami akan mencoba menjadi korek api untuk menyalakan lilin itu.
Suami seharusnya menghargai sang istri.
Begitupun istri juga harus menghormati sang suami.
Itulah kunci kerukunan abadi sehidup
semati.
No comments:
Post a Comment